Terkait hari ini, saya jadi ingat satu momen di mana ada seorang teman bicara ke saya,
“Ti, kok mau sih tumblr -nya di link ke twitter?”
Tentu saja dengan nada bercanda.
Menjawab pertanyaan itu, bukan masalah malu atau tidak. Memang dari awal saya ingin unconnect tumblr-twitter karena akhir-akhir ini sering asal reblog post orang, yang kemudian berujung pada “sampah link” di twitter, yang akhirnya akan saya delete satu persatu. Namun, keinginan itu belum juga tercapai hingga kini tanpa alasan yang jelas.
Teman saya bilang kalau dia bukan tipikal orang yang suka kalau blognya dibaca. Dosen saya juga bilang kalau kita harus punya jarak sosial di sosial-media.
Tapi sejauh mana jarak sosial yang saya ciptakan, saya lah yang menentukan.
Nggak cuma di sosial-media, di kehidupan nyata saya kira kita juga butuh jarak sosial dengan orang-orang di sekeliling, bahkan dengan orang paling dekat sekalipun. Saya juga orang yang percaya bahwa di balik keterbukaan seseorang dengan orang lain, sebesar apapun keterbukaan itu, pasti ada rahasia di dalamnya yang orang itu tidak mau tahu orang lain tahu.
Tapi kembali lagi ke awal bahwa terbuka atau tidaknya seseorang dengan yang lainnya ialah relatif. Tiap orang punya ukuran masing-masing mengenai perlu atau tidaknya suatu hal diceritakan atau tidaknya ke orang lain. Mungkin beberapa berpendapat, “ah, lo masa nggak mau cerita sih”. Sisanya mikir “kok hal kayak gitu diceritain ke orang lain sih?”.
Relatif.
Semoga ini bisa menegaskan jawaban dari pertanyaan teman yang sebenarnya sudah dijawab di tempat tadi siang :)